Mengikat Ilmu, Mengabadikan Karya, Mengekspresikan Rasa

Minggu, 06 Agustus 2017

Nilaku Tak Hanya Setitik

Peribahasa bilang, 'Karena nila setitik rusak susu sebelanga' yang berarti karena kesalahan sedikit rusaklah seluruh kebaikannya. Mungkin kurang lebih begitu.

Pertanyaannya, sebanyak apa kebaikan yang kita buat, jika dibandingkan dengan nila yang kita tumpahkan?

Well, beberapa hari lalu ada seseorang yang 'mungkin' dengan tidak sengaja 'menampar' sekaligus menyayat hati. Kalau dibilang kekerasan mental rasanya terlalu kasar, tapi itulah yang terjadi.

He said to me, 'I think you are the worst student in your class, until now you haven't finished your study yet.'

PETCAH rasanya, just try to keep smile in front of him, and ask his du'a.

'InsyaaAllah, sir. I will finish my study this year. After I come back to Indonesia, i will face the thesis defence.', I answered.

'You didn't know about priority...'

Mak jleeb..!!!

Rasanya sakit sekali, ditampar, ditonjok, dipukul secara batiniyah :" Mungkin agak lebay tapi buat gw yang udah susah bangkit tertatih buat rampungkan skripsi, itu tamparan dahsyat.

Beberapa bulan lalu, gw ikut kompetisi abstrak ke Turki dan biidznillah lolos untuk berangkat ke sana. I just try to get his acceptance, untuk prasyarat pengajuan bantuan dana ke dikti. Andai beliau tau, ini mimpi sedari dulu, bisa berangkat ke Turki entah untuk study, conference atau sekedar travelling. Setelah merasakan internship di negara dengan muslim sebagai minoritas, rasa-rasanya ingin banting setir untuk mengejar mimpi di negeri dengan mayoritas muslim ini.

'Kamu gak tahu prioritas kalau begini..'
Well sir, ini kalimat yang pas memang buat gw yang belum bisa nentuin prioritas. Tapi satu kalimat awal yang menusuk itu, 'you are the worst student' seperti belati tajam yang menghujam. Seketika merasa tak ada guna selama mengenyam pendidikan, cuma satu kata oleh-oleh dipenghujungnya, yaitu 'the worst'.

Nilaku memang tak hanya setitik, maka wajarlah jika hancur sebelanga.

Terima kasih pak, sudah mengingatkan untuk pandai-pandai mengatur prioritas..
Terima kasih pak, sudah mengingatkan bahwa lisan lebih tajam dari pedang..
Terima kasih pak, sudah mengingatkan bahwa judgment itu bisa membunuh karakter siswa..
Terima kasih pak, sudah mengingatkan bahwa menghargai pencapaian siswa itu sangatlah penting sekecil apapun prestasinya.

Terima kasih pak, untuk semua pelajaran di hari itu..
Karena nilaku tak hanya setitik.
Wajarlah jika hancur sebelanga.

0 komentar:

Posting Komentar

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus Email LinkedIn Pinterest

Popular Posts

Categories

Coretanku (29) Puisi (5) Quotes (3) Setitik Ilmu (3)

Blog Archive

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Saniamah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com